Show simple item record

dc.contributor.advisorTanudjadja, Rahmiati.
dc.contributor.authorFransisca, Siat Cynthia
dc.date.accessioned2019-08-22T09:24:24Z
dc.date.available2019-08-22T09:24:24Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/650
dc.description.abstractKebudayaan merupakan hal yang tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia. Kebudayaan juga tidak bisa dilepaskan dari pengertian akan Allah, oleh karena itu kebudayaan seharusnya tidak dipisahkan dari gereja. Seni visual adalah simbol budaya yang mencerminkan pengenalan akan Allah. Sejarah mencatat perkembangan seni visual berkaitan erat dengan perkembangan gereja. Penerapan seni visual menimbulkan kontroversi dari masa ke masa. Ada masa di mana gereja menerima, ada masa di mana gereja menolak. Kontroversi yang terjadi membuktikan bahwa seni visual memiliki dampak yang signifikan bagi gereja. Pada saat reformasi terjadi, gereja sedang tidak berjalan dalam kebenaran firman Tuhan. Seni visual dijadikan sebagai objek penyembahan berhala. Para reformator berdiri dan menyuarakan kebenaran. Berbagai bentuk seni visual dihancurkan dan gereja dibersihkan dari seni visual. Pembersihan ini memberikan pengaruh yang besar bagi gereja dan dunia. Gereja bukan hanya lepas dari perkembangan seni visual, tetapi gereja juga lepas dari kebudayaan. Penolakan terhadap seni visual terus diturunkan dan menjadi tradisi khususnya di gereja reformed, termasuk di Indonesia. Hal ini tentu berbeda dengan masyarakat Indonesia yang diwarnai dengan berbagai macam kesenian. Akhirnya, gereja reformed di Indonesia pun mengikuti tradisi tersebut dan menjauhkan diri dari seni visual. Di lain pihak, seni visual terus berkembang di luar gereja. Jemaat tidak hanya hidup di gereja, bahkan jemaat lebih banyak hidup di luar gereja. Khususnya di era yang penuh media seperti sekarang, semua orang tidak bisa lepas dari seni visual. Banyak orang belajar, menangkap, dan memahami sesuatu melalui seni visual. Manusia tidak lagi seperti di zaman dahulu yang bisa memahami cukup dengan mendengar. Termasuk di dalam gereja. Jemaat gereja saat ini juga hidup dalam dunia visual. Pemahaman tidak hanya bisa melalui telinga, tetapi juga mata. Oleh karena itu, gereja seharusnya juga berani untuk keluar dari tradisi dan kembali menggunakan seni visual. Namun, penggunaan seni visual tetap harus dipagari dengan kebenaran firman Tuhan. Tradisi reformed yang tidak boleh hilang adalah membawa gereja kembali kepada ajaran firman Tuhan yang benar. Seni visual bukan hanya soal estetika, tetapi lebih kepada ekspresi akan pemahaman firman yang benar. Seni visual semacam ini yang harusnya diterapkan di dalam gereja.en_US
dc.publisherSekolah Tinggi Teologi SAATen_US
dc.subjectbudayaen_US
dc.subjectseni visualen_US
dc.subjectreformeden_US
dc.subjectgerejaen_US
dc.subjectIndonesiaen_US
dc.titleSeni Visual sebagai Simbol Budaya dan Implikasinya dalam Gereja Reformed di Indonesia.en_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

FilesSizeFormatView

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record